Selamat datang di situs Kangackmanz.com semoga web ini menambah wawasan Islam untuk kita semua dan semoga dakwah Islam semakin membumi di mana saja. Mohon maaf jika banyak kekurangan dan kesalahan.
Wa Alaikum Salam Wr Wb
Ust. Ackman Lc.
|
Meninggalkan Maksiat: Menikmati Rahmat Ayat & Hadist Nan Mulia “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung “ (An Nur: 31). “Seandainya kalian melakukan kesalahan-kesalahan sepenuh langit, kemudian kalian bertaubat, niscaya taubat kalian akan diterima” (Shahih Ibnu Majah). Musibah Datang Karena Maksiat Musibah itu bisa jadi karena ujian dari Allah ataupun bisa jadi karena dosa dan maksiat yang kita lakukan. Lalu dari mana kita tahu bahwa musibah yang datang kepada kita itu ujian atau murka Allah?? Ahh..ngak usah dipikirin kalau itu ujian karena kalau dianggap ujian pastinya nganggap sepele. Binasanya Umat Karena Maksiat Bagi yang suka baca Al-Qur’an, yang suka baca terjemahnya, yang suka datang ke pengajian, yang suka mencari ilmu pastinya tahu bahwa Al-qur’an menceritakan banyaknya umat-umat yang dibinasakah Allah itu karena maksiat. Coba saja baca cerita kaum Ad, tsamud, Fir’aun, mereka semua dibinasakan Allah karena maksiat. Jadi mari kita bercermin dari kisah-kisah itu, bahwa mungkin saja semua kesulitan kita, masalah di depan kita akibat dari buah maksiat yang kita lakukan. Siapa tahu seret rezeki, rumah tangga berantakan, sulit ini ..susah itu...karena banyak dosa dan maksiat dan belum tobat lagi???? Harusnya yang banyak tobat itu yang muda..remaja...kenapa?? Supaya jalan hidup nya indah dan menawan...SUPAYA BISA MENIKMATI RAHMAT ALLAH Jangan Remehkan Allah… Jangan anggap remeh dosa yang pernah dilakukan, jangan anggap maksiat itu hilang lenyap, dia akan kembali membuntuti kita. Gembiranya seseorang karena telah bermaksiat itu lebih berbahaya dari dosa itu sendiri. Karena apa?? Karena dia telah meremehkan Allah, telah bermain dengan kemarahan Allah. Ayo Tobat…karena bencana turun karena maksiat, dan akan lenyap karena Tobat Jadikan tobat itu bagian dari kehidupan kita, jangan jadikan maksiat itu bagian dari hidup kita,,,Yakinlah hidup tidak akan nikmat dan berkah. Seindah dan senikmat apapun dosa maksiat itu. Semoga bermanfaat Ust. Ackman Lc. MSi
Bagian I: Mengapai Ridho Allah Dengan Siwak Siwak atau menggosok gigi adalah kegemaran Nabi Saw. Dalam setiap kesempatan beliau selalu bersiwak, bahkan setiap tidur sekalipun siwak selalu siap tersedia di samping beliau. Menjelang wafatnya beliau masih sempat bersiwak terlebih dahulu sebelum menghebuskan nafas terakhir. Allahumma Sholi Wa Sallim ‘alaihi. Siwak sendiri menurut Imam Nawawi bisa diartikan satu perbuatan untuk membersihkan gigi atau bisa diartikan sebuah kayu yang digunakan untuk menggosok gigi [1]( Kayu Aru; siwak; Salvador Persica). Jadi gosok gigi seperti yang kital lakukan sehari-hari dengan memakai odol misalnya bisa pula disebut dengan Siwak. Bisa pula diartikan benda atau kayu (kayu aru) yang digunakan untuk mengosok gigi. Meskipun mengosok gigi dengan kayu Aru menurut pandangan mayoritas lebih utama lebih utama. Tentu saja harus ada niat aatau menghadirkan niat mengikuti sunnah Nabi ketika menggosok gigi, ketika mandi yang dilakukan kita sehari-hari. Dan pastinya tidak ada pahala sama sekali jika tidak diniatkan. Maka gosok gigi yang kita lakukan hanya sekedar membersihkan gigi saja. Dari hadist-hadist tentang siwak ada sebuah hadist yang sangat luar biasa yakni tatkala ’Aisyah menceritakan:
“Empat macam kebiasaan para Nabi: Malu, memakai minya wangi, bersiwak dan nikah.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Hadist hasan) [2]
Disini kita bisa menepuk dada, bahwa tidak ada sama sekali cerita dari kitab-kitab Allah Swt yang ada sekarang ini, ataupun riwayat dari pada Nabi-nabi Allah selain dari Rasulullah Saw bagaimana kebiasaan para nabi mereka. Kita tahu bahwa para Nabi itu juga bersiwak dari hanya penuturan Nabi kita. Ini sungguh luar biasa sekali, karena sebuah perbuatan yang kecil ternyata dilakukan pula oleh para Nabi yang mungkin saja berjumlah ribuan. Dan kebiasaan para Nabi ini, hanya dikisahkan oleh penuturan penutup semua Nabi, yaitu Nabi Muhammad Saw. Jadi tidak ada alasan lagi kita meninggalkan bersiwak, ketika wudhu, sholat ataupun ketika hendak melakukan ibadah lainnya. Allahumma Sholli wa Sallim ‘Alla Muhammad.
I. Sunnah Nabi Yang Hampir Diwajibkan Satu ibadah yang dianggap ringan namun hampir saja diwajibkan oleh Rasulullah Saw. Namun karena dianggap siwak itu akan memberatkan pada umatnya, maka tidak ada satupun hadist yang menunjukan wajibnya bersiwak. Meskipun sebenaranya jika dilakukan, minimal zaman sekarang sudah sangat mudah sekali. Setiap saat kita, minimal ketika mandi pasti bersikat gigi karena kita tahu manfaat dan fungsi mengosok gigi bagi kesehatan mulut dan gigi. Namun selayaknya pula tidak meninggalkan siwak minimal ketika berwudhu dan ketika hendak Solat. Seperti anjuran Rasulullah Saw di bawah ini:
لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي- أَوْ عَلَى النَّاسِ لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صلاة “Jika saja akan memberatkan umatku maka (atau pada manusia), maka akan kuperintahkan mereka untuk bersiwak setiap akan sholat”(HR. Bukhari Muslim)
لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوْءٍ “Seandainya aku tidak memberatkan umatku, niscaya aku perintahkan mereka utk bersiwak setiap hendak berwudhu.” (HR. Bukhari)
Kebiasaan beliau tidak saja bersiwak ketika wudhu atau solat, namun ketika sesudah Solat pun beliau tetap bersiwak pula. Seperti yang tergambar dalam hadist dibawah ini:
كَانَ رَسُولُ اللهِ j يُصَلِّي بِاللَّيْلِ رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَسْتَاكُ
“Adalah Rasulullah Saw solat malam dua rakaat, kemudian pergi bersiwak.” (HR.Ahmad & Ibnu Majah. Hadist Hasan riwayat Ibnu Abbas)[3]
Saat Nabi Pulang Ke Rumah Dan sungguh menajubkan pula setelah mendengar penuturan istri beliau, Aisyah bahwa pekerjaan yang dilakukan Rasulullah Saw ketika pulang rumah adalah bersiwak!!
عَن عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَ j كَانَ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ بَدَأَ بِالسِّوَاكِ Dari Aisyah ra, “ Adalah (kebiasaan) Nabi Saw ketika masuk rumah, beliau selalu memulai dengan bersiwak.” (HR. Muslim)
Ketika Bangun Tidur Sesuatu yang lumrah jika menggosok gigi terlebih dahulu sebelum tidur, Namun perbuatan Rasulullah Saw ketika bangun tidur langsung bersiwak adalah contoh yang harus kita tiru juga. Hal ini diketahui dari penuturan beberapa sahabat beliau. Ibnu ‘Umar ra menceritakan:
أَنَّ رَسُولَ الله j كَانَ لاَ يَنَامُ إِلاَّ وَالسِّوَاكُ عِنْدَهُ، فَإِذَا اسْتَيْقَظَ بَدَأَ بِالسِّوَاكِ “Sungguh Rasulullah Saw tidaklah tidur kecuali siwak (selalu) di dekatntya. Dan jika beliau bangun langsung bersiwak.” (HR. Ahmad. Hadist Sahih)[4]
“Adalah Rasulullah jika bangun dari malam dia mencuci dan menggosok mulutnya dengan siwak”. (HR. Bukhari Muslim)
Dari Auf Ibn Malik menceritakan:
قُمْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ j فَبَدَأَ فَاسْتَاكَ ثُمَّ تَوَضَّأَ ، ثُمَّ قَامَ يُصَلِّي ، وَقُمْتُ مَعَهُ ، فَبَدَأَ فَاسْتَفْتَحَ الْبَقَرَةَ لاَ يَمُرُّ بِآيَةِ رَحْمَةٍ إِلاَّ وَقَفَ فَسَأَلَ ، وَلاَ يَمُرُّ بِآيَةِ عَذَابٍ إِلاَّ وَقَفَ يَتَعَوَّذُ ، ثُمَّ رَكَعَ فَمَكَثَ رَاكِعًا ، بِقَدْرِ قِيَامِهِ ، يَقُولُ فِي رُكُوعِهِ : سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوتِ وَالْمَلَكُوتِ ، وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ " ، ثُمَّ قَرَأَ آلَ عِمْرَانَ ، ثُمَّ سُورَةً ، فَفَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ “Aku pernah bangun bersama Rasulullah Saw, kemudian beliau bersiwak, dilanjutkan dengan berwudhu. Kemudian beliau Solat dan aku pun solat. [5](HR. Imam Ahmad, Nasai dan Abu Daud)
Musa al-Asy‘ari ra menceritakan pula:
أَتَيْتُ النَّبِيَّ j وَهُوَ يَسْتَاكُ بِسِوَاكٍ رَطْبٍ. قَالَ: وَطَرَفُ السِّوَاكِ عَلَى لِسَانِهِ وَهُوَ يَقُوْلُ: أُعْ، أُعْ. وَالسِّوَاكُ فِي فِيْهِ كَأَنَّهُ بَتَهَوَّعُ “Aku pernah berkunjung kepada Nabi Saw, ketika itu beliau sedang bersiwak dengan siwak basah. Ujung siwak itu di atas lidahnya dan terdengar (suara) “uh..uh’ ketika ujung siwaknya ada di mulut beliau. Seakan-akan beliau hendak muntah.” (HR. Bukhari Muslim)
Kisah Ibn Abbas Dari Ibnu Abbas ra bahwasanya suatu malam ia pernah menginap di tempat Nabi Saw, lalu di penghujung malam beliau bangun kemudian keluar dan memandang ke langit kemudian membaca ayat ini (ayat dalam surat Ali Imran), (Sesungguhnya di dalam penciptaan langit-langit dan bumi serta pergantian malam dan siang)...hingga beliau meneruskan sampai ayat (... maka jagalah diri kami dari adzab neraka). Kemudian beliau kembali lagi ke rumah dan bersiwak serta berwudhu. lalu berdiri melakukan shalat, kemudian berbaring dengan miring lalu bangun dan keluar memandang ke langit seraya membaca lagi ayat ini, kemudian masuk lagi ke rumah lalu bersiwak, berwudhu, kemudian berdiri melakukan shalat.” (HR. Muslim)
Siwak Sebelum Wafat Bersiwak ini merupakan kebiasaan Rasulullah Saw kapan saja dan dimana saja, bahkan menjelang wafatpun beliau masih sempat bersiwak. Hal ini diungkapkan oleh Aisyah yang dengan bangganya menceritakan mendekap Rasulullah menjelang wafatnya di rumahnya sendiri:
أَنَّ عَائِشَةَ كَانَتْ تَقُولُ إِنَّ مِنْ نِعَمِ اللَّهِ عَلَىَّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ j تُوُفِّىَ فِى بَيْتِى وَفِى يَوْمِى ، وَبَيْنَ سَحْرِى وَنَحْرِى ، وَأَنَّ اللَّهَ جَمَعَ بَيْنَ رِيقِى وَرِيقِهِ عِنْدَ مَوْتِهِ ، دَخَلَ عَلَىَّ عَبْدُ الرَّحْمَنِ وَبِيَدِهِ السِّوَاكُ وَأَنَا مُسْنِدَةٌ رَسُولَ اللَّهِ j فَرَأَيْتُهُ يَنْظُرُ إِلَيْهِ ، وَعَرَفْتُ أَنَّهُ يُحِبُّ السِّوَاكَ فَقُلْتُ آخُذُهُ لَكَ فَأَشَارَ بِرَأْسِهِ أَنْ نَعَمْ ، فَتَنَاوَلْتُهُ فَاشْتَدَّ عَلَيْهِ وَقُلْتُ أُلَيِّنُهُ لَكَ فَأَشَارَ بِرَأْسِهِ أَنْ نَعَمْ ، فَلَيَّنْتُهُ ، وَبَيْنَ يَدَيْهِ رَكْوَةٌ - أَوْ عُلْبَةٌ يَشُكُّ عُمَرُ - فِيهَا مَاءٌ ، فَجَعَلَ يُدْخِلُ يَدَيْهِ فِى الْمَاءِ فَيَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ يَقُولُ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ. ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ فَجَعَلَ يَقُولُ : فِى الرَّفِيقِ الأَعْلَى Bahwa 'Aisyah pernah berkata; Diantara nikmat yang Allah berikan kepadaku adalah bahwa Rasulullah Saw diwafatkan di rumahku, (yaitu) pada hari giliranku. Dan beliau ketika itu itu berada di antara dagu dan leherku. Dan sungguh Allah telah menyatukan air liurku dengan air liur beliau ketika beliau wafat. Pada waktu itu Abdurrahman masuk ke rumahku sambil membawa siwak. Sedangkan aku waktu itu bersandar kepada Rasulullah Saw. Aku melihat beliau melihat siwak itu. Aku tahu beliau menyukai siwak. Aku berkata: Aku ambilkan untukmu. Beliau memberi isyarat dengan mengangguk. Kamudian berikan kepada beliau. Namun siwak itu terasa kasar, aku bilangL aku akan haluskan siwaknya. Beliaupun mengangguk. Kemudian aku haluskan siwaknya, dan aku berikan padanya. Di antara kedua tangan beliau ada sebuah kaleng atau ember kecil, (rawai hadist (Umar) ragu-ragu apakah di dalamnya ada air. alu beliau memasukan kedua tangannya ke dalam kaleng tersebut lalu mengusapkannya ke wajahnya sambil berkata; Laailaaha Illallah sesungguhnya kematian itu sekarat (pilu). Kemudian beliau mengangkat tangannya seraya berkata; …Arrafiiqul A'laa…., kemudian beliau wafat dan tangannya jatuh lemas.“(HR. Bukhari)
Kebiasaan Para Nabi Kebiasaan Nabi Saw bersiwak bukan sekedar kebiasaan saja, namun ternyata siwak itu adalah kebiasaan para Nabi pula. Tidak satupun Kitab suci agama samawi yang ada sekarang ini, menceritakan pribadi Nabi mereka secara mendetail bahkan sampai bersiwak pula, kecuali Islam. Dari hadist dibawah ini kitapun bisa mengetahui bahwa para Nabi dan para rasulpun dulunya bersiwak dan menjadi kebiasaan mereka.
اَرْبَعٌ مِنْ سُنَنِ المُرْسَلِيْنَ الحَيَاءُ التَّعَطُّرُ وَالسِّوَاكُ وَالنِّكَاحُ “Empat macam kebiasaan para Nabi: Malu, memakai minya wangi, bersiwak dan nikah.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Hadist hasan) [6]
Anjuran Siwak Kepada Sahabatnya
“Aku sering menganjurkan kalian banyak bersiwak.” (HR. Nasai)
لَقَدْ أُمِرْتُ بِالسِّواك حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ يَنْزِلُ عَلَيَّ فِيهِ قُرْآنٌ أَوْ وَحْيٌ “Aku selalu diperintah bersiwak hingga aku menyangka akan diturunkan wahyu padaku.” (HR Abu Ya’la dan Ahmad)[7]
Bersiwaklah Karena Mampu Meraih Ridho Allah السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ
“Siwak dapat membersihkan mulut dan (mamp mengapai) ridho Allah.”(HR. Nasai dan di sahihkan oleh Ibn Khuzaimah. Semua rawinya tsiqot).[8]
Bagian II: Siwak Dalam Kehidupan Kita
Gosok Gigi Yang Bagaimana Yang Dapat Pahala Itu..??? Bersiwak ataupun menggosok gigi sambil meniatkan dalam hati bahwa hal itu dikerjakan untuk mendapat pahala, atau mengikuti sunnah Nabi Saw itulah yang akan diganjar pahala. Meskipun kita beranggapan bahwa menggosok gigi itu sudah dilakukan sejak kecil dan sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan tiap hari, namun jika tidak meniatkan seperti yang diatas tentunya tidak ada pahala apapun. Dia nantinya hanya sekedar membersihkan gigi saja. Sebuah hadist mutawatir mengingatkan kita akan pentingnya menghadirkan Niat:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإنَّمَا لِكُلِّ امْرِىءٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُوله فَهِجْرتُهُ إلى اللهِ وَرَسُوُله ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا ، أَو امْرأَةٍ يَنْكِحُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلى مَا هَاجَرَ إلَيْهِ “Sesungguhnya amal perbuatanitu (sangat) tergantung kepada niat dan bagi seseorang (pahalanya itu) tergantung dari niatnya. Barang siapa yang hijrahnya (hanya) karena Allah dan rasulNya, maka hijrahnya untuk Allah dan RasulNya. Dan barang siapa yang hijrahnya (hanya) untuk meperoleh dunia semata atau untuk wanita yang akan dinikahinya, maka ia akan mendapatkan (apa yang ditujunya).” (HR. Bukhari Muslim) Hadist diatas mengingatkan kita pentingnya berniat, karena niat itu adalah bagian yang tidak terpesihkan dari ibadah itu sendiri. Jadi niatkan dari sekarang ketika gosok gigi mengikuti Sunnah Nabi Saw, Insya Allah perbuatan harian yang kita lakukan, meski dianggap ternyata mampu menambah pahala sekaligus mengapai Ridho Allah.
Ya Betul, Kalau Wudhu Saya Bisa Gosok Gigi..Kalau Solat !! Jadi bawalah sikat gigi kemana-kemana, meskipun ke kantor sekalipun. Tapi jika lupa bawa gogok gigi bisa bersiwak dengan menggunakan tangan seperti dalam hadist dibawah ini. Karena hadistnya panjang cukup ditulis bagian yang berkaitan dengan siwak menggunakan tangan:
فَغَسَلَ يَدَيْهِ وَوَجْهَهُ ثَلاَثًا فَأَدْخَلَ بَعْضَ أَصَابِعَهُ فِيهِ واسْتَنْشَقَ ثَلاَثًا “Beliau membasuh kedua tanggan dan wajahnya tiga kali kemudian memasukan jarinya ke dalam mulut beliau. Kemudian berkumur dan menghirup air (oleh mulut) tiga kali….” (HR. Ahmad, Baihaqi dan Thabarani)
Tapi bagaimana kalau akan solat di Masjid? Apa harus bawa sikat gigi pula? Para pakar fikih membolehkan bersiwak dengan sesuatu yang lembut misalnya dengan sapu tangan atau ujung baju. Jadi ketika hendak ke Masjid bisa mengosok gigi dulu di rumah ketika wudhu. Namun jika ternyata lupa sedangkan kita sudah berada di Masjid atau kasus seperti itu. Bisa kita gunakan sapu tangan atau ujung baju atau apa saja kemudian kita gogok gigi kita sekedarnya, untuk meraih pahala sunnah. Ataupun bisa menggunakan kayu aru yang sekarang sudah di jual banyak di toko-toko di Indonesia.
Ibadah Yang Sangat Dianjurkan Sekali Bersiwak Sebenarnya bersiwak sangat dianjurkan setiap saat, namun ada lima keadaan yang sangat dianjurkan sekali yaitu: 1. Ketika Wudhu 2. Ketika Hendak Sholat 3. Sebelum Membaca Al-Qur’an 4. Bangun tidur 5. Ketika berubah bau mulut
Namun beberapa ulama menambahkan yaitu: 6. Ketika masuk rumah 7. Ketika hendak bertemu dengan orang lain 9. Ketika banyak bicara 10. Ketika memakan bau yang tidak sedap [10] 11. Ketika membaca atau belajar hadist 12. Ketika Dzikir 13. Waktu sahur 14. Dan sesudah solat Witir [11] 15. Ketika masuk masjid
Kesimpulan
Semoga bermanfaat Ust. Ackman Lc. M.Si Referensi:
Hidup Harus Berprestasi (Karena) Hidup Hanya Sekali Motivasi Al-Qur'an & as-Sunnah “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : "Ya Tuhan Kami, keluarkanlah Kami niscaya Kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah Kami kerjakan". dan Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.” (QS. Al-Fathir: 37) Rasulullah Saw bersabda: "Tidaklah kedua telapak kaki seorang hamba melangkah di sisi Allah pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai lima perkara: tentang umurnya, untuk apa dihabiskannya? Masa mudanya, digunakan untuk apa? Hartanya, dari mana ia mendapatkannya? Untuk apa ia membelanjakannya? Dan, apa yang telah ia amalkan dari apa yang dia ketahui (dari ilmunya)?” (HR. Tirmidzi. Hadist Sahih)
Masa Muda Dihabiskan Untuk Apa? Coba perhatikan ayat di atas? Ada peringatan tentang umur dari Allah Swt!! Seakan-akan ada pertanyaan tersembunyi yang kira-kira begini artinya: Umurmu dipakai untuk apa..?? bukankah banyak waktu dan kesempatan untuk digunakan taat dan ber amal Soleh??? Begitu dalam pernyataan Rasulullah Saw, ada pernyataan masa muda. Artinya masa muda kita, masa remaja bahkan ketika beranjak sampai dewasa, sampai tua, mau dipakai atau sudah dihabiskan untuk apa? Mari kita muhasabah masa muda kita, kita menengok ke belakang barang sejenak. Dari bangun tidur, baca Koran, sarapan, ke sekolah, kuliah, kerja, nikah, jalan-jalan kesana kemari membuang waktu, pacaran, nonkrong di warteg, hang out di cafe, ngerumpi kesana kemari, nonton sinetron dan lainnya. Artinya sudah berapa banyak tarikan nafas yang sudah kita lalui. Pasti tidak akan terhitung banyaknya. Setelah flash back ke belakang, karena kita orang beriman, orang yang mau Soleh, mau bertakwa, pasti akan berfikir..Masa muda gue dah dipake apa aja? Umur saya sudah dihabiskan untuk apa? Kalau Umur Bisa Dimasukan Ke Dalam Celengan Seandainya umur itu, seandainya desakan nafas, seandainya hirupan nafas kita bisa dimasukan ke dalam celengan dan di buka di akhirat nanti, pasti hisab (perhitungan) amal kita kelak tidak akan meleset. Pastinya celengan itu akan banyak sekali dan tidak terhitung jumlahnya. Gimana kalau celengan itu kalau dibuka ternyata kosong sama sekali, alias tidak ada perbuatan baik, kagak ada amal solehnya, desakan nafas yang dimasukan ke celengan itu tidak ada apa-apanya. Tidak bias dijadikan investasi berharga di akhirat kelak? Malah ketika dibuka hanya hirupan nafas dari ber jam-jam yang tidak berarti. Ada yang dihabiskan hanya untuk berbuat dosa. Setiap hirupan nafas dipakai untuk keburukan, melaknat orang, malas belajar agama, enggan bersedekah, ghibah (menjelekan orang lain), mencari kesalahan orang lain, jelek ke orang tua, buruk ke teman, malas jamaah di masjid dll...Coba bayangkan seperti apa nantinya kita? Biar Kita Masuk Liang Kubur Dengan Membawa Prestasi Coba kalau celengan umur kita itu, celengan hirupan dan desakan nafas kita ternyata ketika dibuka banyak sekali prestasi, banyak manfaat untuk pribadi, untuk keluarga ataupun untuk masyarakat. Ketika dibuka satu celengan ternyata terlihat hirupan nafas dalam beberapa menit bahkan berjam-jam dipakai untuk berjamaah di masjid, dipakai untuk mendatangi majelis ilmu. Celengan ketika dibuka, ternyata dipakai untuk pergi ke rumah yatim, ke panti jompo, meyambangi orang-orang miskin. Celengan lain dibuka dia bekerja dan sebagian gajinya dipakai sedekah, zakat, membantu orang tua dan lainnya. Hidup ini hanya sekali saja ayo kita ukir prestasi di hadapan Allah. Jadikan diri kita manfaat untuk diri kita sendiri baru untuk yang lain. Mari kita lakukan sebelum terlambat. Semoga bermanfaat Ust. Ackmanz Hanya 1 Menit Aja Kok....!!!!
Sungguh Nikmat Semua NikmatMu
“…. laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah (zikir) , Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35)
“Setiap manusia tidaklah mengerjakan satu perbuatan yang lebih bisa menyelamatkannya dari siksa Allah melebihi Zikrullah.” (HR. Abu Syaibah dan Thabrani dengan sanad Hasan)
"Bagi Hati, zikir seperti layaknya air bagi ikan. Bagaimanakah keadaan ikan itu jika berpisah dengan air..?? (Ibnu Taimiyah)
Artikel di bawah ini pernah di posting di bebabagai Page di Facebook dengan Admin Kang Ackmanz (Ust. Ackman). Silahkan klik link di bawah ini dan Semoga bermanfaat
Page Kajian & Tafsir Al-Qur'an 2. Kajian & Tafsir Surat Asy-Syarh (Alam Nasyrah) 3. Kajian & Tafsir Surat Al-Baqarah (Ayat 1- 5) 5. “Untuk Apa Kita Hidup…???” Tafsir surat Adz-Dzariyat (51): 56
|






